Rabu, 08 April 2020

Bahasa Ibu Vs Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia dipahami dan dituturkan lebih dari 90% warga Indonesia, namun Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Indonesia memiliki kurang lebih 707 bahasa etnis/daerah yang digunakan dan dipilih sebagai bahasa Ibu. Pada umumnya pembahasan tentang bahasa ibu selalu dikaitkan dengan bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan bahasa pertama yang dikenal anak sebagai bahasa pengantar dalam keluarga yang kemudian akrab disebut sebagai bahasa ibu.

Bahasa ibu sesungguhnya adalah bahasa yang pertama kali dipelajari secara alamiah oleh seseorang sejak ia kecil. Bahasa ibu dipelajari sebelum bahasa lain dipelajari. Bahasa Ibu diperoleh anak melalui proses meniru perkataan orang dewasa tanpa perlu mempelajari kaidah-kaidah gramatika (Lengkanawati, 2007:660). Dalam dunia akademisi, bahasa ibu atau mother tongue dilambangkan dengan B1. Bahasa Ibu (B1) dipelajari melalui pendidikan informal yakni keluarga dan lingkungan tempat tinggal (Indrawati dan Oktarina, 2005:24). Anak akan meniru semua konsep yang dilihat dan didengarnya dalam keluarga dan lingkungan.

Bahasa ibu identik dengan bahasa leluhur (Tarigan, 1990). Bahasa ibu memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan bahasa daerah tempat tinggal seseorang (Rita, 2008). Setiap orang memiliki bahasa ibu yang berbeda-beda, Hal ini disebabkan oleh keberagaman suku dan wilayah yang berbeda-beda pula. Bahasa ibu menduduki posisi yang sangat penting. Bahasa ibu melambangkan kebanggaan dan identitas suatu daerah. Bahasa ibu menunjukkan identitas yang khas pada suatu wilayah, menyatakan adanya suatu budaya yang diwariskan, serta mengandung berbagai nilai-nilai kearifan lokal yang menunjukkan keberagaman Indonesia.

Di era global saat ini, kedudukan bahasa daerah sebagai bahasa ibu mulai kehilangan perhatian. Keberadaan media masa baik cetak maupun online sangat mempengaruhi perkembangan bahasa yang memudahkan seseorang memperoleh kosakata baru. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya ragam bahasa-bahasa baru yang tanpa disadari mengeser eksistensi bahasa ibu. Peta persoalan utama yang dihadapi bahasa ibu adalah gejala degradasi bahasa yang mengarah pada kepunahan. Kemerosotan penggunaan bahasa ibu juga disebabkan oleh sikap penuturnya yang kurang positif terhadap bahasa daerahnya sendiri.

 Penggunaan bahasa daerah dipandang sebagai simbol keterbelakangan. Pada percakapan sehari-hari, seseorang lebih cenderung menggunakan bahasa asing karena dianggap lebih modern dan menunjukkan prestise kecerdasan seseorang. Jika pergeseran bahasa ibu semacam ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa daerah akan hilang dari rentangan perbendaharaan bahasa daerah Indonesia.

Dewasa ini kegelisahan juga mulai dirasakan dunia pendidikan. Sekolah-sekolah di Indonesia berlomba menjadi sekolah bertaraf internasional dengan menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantarnya. Kondisi seperti itu tidak hanya mengancam keberadaan bahasa daerah, tetapi juga bahasa Indonesia. Bukan tidak mungkin hal-hal yang demikian akan membuat orang Indonesia menjadi tukang jagal bagi bahasa daerahnya sendiri.

Pemerintah sudah melakukan antisipasi menganjurkan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Kebijakan tersebut berlaku mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar kelas rendah (kelas 1-III). Hal ini dipilih karena anak akan lebih akarab dan mudah memahami pembelajaran yang masih mengunakan bahasa ibu (Zuchdi dan Budiasih, 2001). Pada kota-kota tertentu bahasa daerah diajarkan sebagai muatan lokal. Namun jika bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa ibu, maka bahasa daerah perlu dipertimbang untuk dijadikan sebagai mata pelajaran wajib bukan hanya sekedar muatan lokal di sekolah. Hal ini sebagai salah satu cara mencegah musnahnya bahasa daerah.

Keberadaan bahasa ibu atau bahasa daerah mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan estetika budaya yang tinggi. Beberapa kota juga melakukan upaya untuk melestarikan bahasa daerah, misalnya Bandung. Rebo Nyunda atau Rabu Sunda adalah suatu kegiatan mingguan yang dilaksanakan pada hari rabu dengan tujuan melestarikan budaya Sunda sebagai salah satu budaya lokal Jawa Barat. Seluruh warga Kota Bandung, khususnya Pegawai Negeri Sipil (PNS), dihimbau menggunakan bahasa Sunda untuk berkomunikasi. Hal ini merupakan konsep pelestarian bahasa daerah yang baik sebagai sarana untuk mencintai dan bangga terhadap bahasa daerah sendiri.

Perlu disadari oleh semua lapisan bahwa bahasa ibu merupakan lambang kebanggaan masing-masing daerah, lambang jati diri daerah, sarana pendukung budaya daerah, serta sebagai lambing adanya keberagaman sastra daerah. Bahasa daerah dapat menjadi penghubung dan alat komunikasi dalam keluarga serta masya¬rakat daerah. Tidaklah ber¬lebihan apabila bahasa ibu dianggap sebagai bahasa yang paling dekat, paling kuat, dan paling mengakar dalam diri seseorang. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk melestarikan dan mengawal pelestarian bahasa ini. Pemerintah dan masyarakat perlu mengawal secara konsisten pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah. Sedangkan para orang tua mempunyai tangggung jawab dan kewajiban besar untuk mewariskan kepada anak-anaknya karena bahasa ibu menunjukkan jati diri yang harus dipertahankan.

Bahasa ibu merupakan pertahanan yang kuat untuk melawan tergerusnya penggunaan bahasa daerah yang terjadi di era globalisasi. Bahasa daerah begitu pentingnya eksistensi dan pelestariannya bagi bangsa yang kaya ini. Semua lapisan masyarakat, baik itu pemerintah maupun orang tua harus mampu menyamakan persepsi dalam menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan dan keberagaman bahasa daerah.



Daftar Pustaka
Indrawati, Sri dan Oktarina, Santi. (2005). Pemerolehan Bahasa Anak TK: Sebuah Kajian Fungsi Bahasa. Lingua.
Lengkawati, Nenden Sri. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogia Press.
Rita, N. (2008). Mendidik Anak dengan Menggunakan Bahasa Ibu Sejak Dini. Diperoleh 19 Februari 2008, dari www.sd-binatalenta.com/arsipartikel/artikel_neneng.pdf.
Tarigan, Guntur. (1990). Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Zuchdi, D & Budiasih. (2001). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS.

1 komentar:

  1. Saya bangga menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di rumah di keluarga dimana pun , juga dengan orang lain yang saya kenal pastinya bahwa orang itu orang sunda, ini salah satu cara untuk melestarikan bahasa ibu, mwnggunakannya setiap hari ..
    Bu Oni hatur nuhun artikelnya...

    BalasHapus